Saat musim kemarau telah beranjak—setelah beberapa bulan menghanguskan sebagian Pulau Jawa. Musim hujan pun perlahan menancapkan dirinya seiring berlalunya kemarau. Tanah Jawa yang semula gersang dan terbakar menjadi kembali basah dan hidup.
Sekilas tidak ada yang menarik dari pergantian musim tahun ini di dataran rendah. Namun, siapa yang sangka bahwa di atas sana terjadi sesuatu yang mengerikan. Amukan badai bak serigala yang mengamuk terjadi di ketinggian 3.428 MDPL.
Badai yang setidaknya akan membuat kami kalang kabut, berjalan entah kemana. Badai yang akan menjadikan kami rapuh dan begitu tidak berdaya.
Barangkali benar bahwa, “Alam tidak pernah bertoleransi…”.
Kami kalah dengan kabut, kami kalah dengan dingin, dan kami kalah dengan angin…
Saat itu, hanya ada Aku, Tuhan, dan Alam. Aku sebagai diri, Tuhan sebagai Sang Pencipta, dan alam sebagai saudara. Jika kami semua sadar akan itu, niscaya kami tidak akan tersesat.
Suatu kejadian yang telah menjadikan kami senantiasa sadar dan semakin faham bahwa manusia hanyalah mahluk lemah dan tak berdaya.
